Sejarah dan Tentang Lembaga Bahasa Mandarin SINO

Lembaga Bahasa Mandarin (LBM) SINO dibentuk pada tanggal 5 Oktober 2004 di Jakarta, atas prakarsa Priska Hermin Leonny, SS dan Stanley Rorong.

Priska adalah seorang Sarjana Sastra Cina (S1), lulusan Universitas Indonesia pada tahun 1995.
Pada awal tahun 1996 hingga pertengahan tahun 1999, melanjutkan studi di Beijing Language and Culture University, China, sekaligus menjadi koresponden untuk majalah mingguan GATRA di Jakarta.

Sekarang ini Priska aktif sebagai Dosen Bahasa China di beberapa Universitas di Jakarta dan Manado, pembicara seminar maupun trainer bagi guru-guru Mandarin serta pernah menjabat sebagai Ketua Program Studi Bahasa dan Budaya China di Universitas Bunda Mulia, Jakarta.

Makna Kata SINO

Makna kata “SINO”, diambil dari kata Sinology, yang dalam penggunaan umum berarti studi tentang Cina dan hal-hal yang berkaitan dengan Cina. Tapi, terutama dalam konteks akademik Amerika, mengacu lebih ketat untuk mempelajari bahasa dan sastra klasik, dan pendekatan filologis. Dalam Sinosphere Asia, studi tentang subyek yang berhubungan dengan Cina mulai awal. Di Jepang, sinology dikenal sebagai kangaku ( “Han Studies”). Di Cina, studi tentang subjek yang berhubungan dengan cina dikenal sebagai Guoxue (“Studi Nasional”), dan sinology diterjemahkan sebagai Hanxue ( “Han Studies”).

Nama SINO inilah yang kemudian digunakan sebagai nama Lembaga Pendidikan Bahasa Mandarin kami, yang di dalam kesatuan kurikulumnya, bukan saja mencakup pengajaran bahasa melainkan juga menitikberatkan pada pembelajaran budaya, adat istiadat, sosial, politik dan ekonomi Cina.